ACAPOKER menyediakan games TEXAS HOLDEM POKER

mainkan game poker online dan domino QQ terbaru

Daftar Sekarang Juga!

Wawancara Eksklusif The Panturas: Ombak Deras Dari dan Bagi Jatinangor

 

ilustrasi: jpnn.com


ACA POKER - Bagi sebagian besar band yang memulai karirnya dari bawah tanah, merilis album keduanya nggak ubahnya pencapaian gede.


Hal yang sama juga terjadi dengan The Panturas. Sepekan lalu (10/September), kuartet bangor ini baru saja melepas anak kedua mereka dengan tajuk 'Ombak Banyu Asmara', buah dari kesuksesan besar yang mereka terima dari album debut 'Mabuk Laut'.


Dengan pencapaian besar di tengah proyek yang cukup masif ini, The Panturas belum lagi ingin melupakan akar mereka saat lahir enam tahun lalu.


Kini dihuni oleh Kuya, Abyan, Ijal, dan Gogon; mereka bahkan masih sangat bangga untuk mengakui Jatinangor sebagai tanah air yang sangat berjasa bagi The Panturas.


Cerita ini disampaikan rekan-rekan Panturas dengan sangat hangat pada Selasa kemarin via Instagram.



Sekelumit tentang Jatinangor

Bisa dibilang, kecamatan inilah yang menjadi rahim pertama bagi embrio The Panturas untuk melanggengkan aksi-aksi selancar necisnya hingga saat ini.


Letaknya yang strategis - jauh dari Kota Bandung dan dari pusat Kabupaten Sumedang - membuat para pemuda Jatinangor kerap harus memutar otak untuk menyiasati hiburan yang terbatas.


Alhasil, Jatinangor yang sebagian besarnya dihuni oleh para mahasiswa - setidaknya tiga hingga empat kampus besar - ini menjadi sangat berwarna dan membentuk sebuah iklim bawah tanah yang sehat.


Sedari dulu, kondisi serba terbatas dari Jatinangor inilah yang membuat banyak band-band keren akhirnya bermunculan. The Panturas, tentu saja adalah salah satu produknya. 


Lahirnya The Panturas di Jatinangor

The Panturas dibidani oleh Surya Fikri Ash-Shidiq atau Kuya (drummer) dan Rizal Taufik atau Ijal (gitaris) yang merupakan putra kebanggaan Tanjungsari (kecamatan tetangga Jatinangor), keduanya merupakan kawan seangkatan Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran.


Medio 2015 menjadi saksi awal bagi ekosistem musik independen Jatinangor pun juga bagi Panturas kala itu.


Dengan menjamurnya event musik dan band yang bermunculan kala itu, Kuya dan Ijal dkk akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah band yang berbeda dengan yang lain.


Alhasil, lahirlah formasi awal The Panturas berkat ketekunan dan kecintaan Kuya terhadap film yang kemudian diimplementasikan ke sebuah grup musik - well, bisa dibilang sekarang sangatlah sinematik.


"Urang (gue) merasa sangat terbantu dengan kehadiran penjaja DVD bajakan di Jatinangor, serta keberadaan perpustakaan Batoe Api dengan kuncén-nya, Bang Anton," ujar Kuya mengenang bagaimana dirinya mulai ngulik referensi untuk The Panturas.


"Berkat keberadaan mereka, literasi dan referensi musik ataupun film yang bisa dibagiin menjadi semakin kaya. Hal tersebut juga yang meyakinkan kami untuk memulai The Panturas," lengkapnya.





Situs Poker OnlinePoker88Agen Judi Poker OnlineACA Poker

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.